
capungmedia.com - Salah satu program Kementerian Pertanian adalah percepatan peningkatan produksi cabai disamping percepatan swasembada pangan lainnya seperti padi, jagung, kedelai, tebu, bawang merah, dan daging sapi. Saat ini sentra produksi cabai masih terkonsentrasi di beberapa wilayah Pulau Jawa dan belum merata di seluruh wilayah Indonesia. Dengan demikian apabila terjadi gagal panen, maka pasokan ke sejumlah daerah khususnya Jabodetabek terhambat.
Gaya konsumsi masyarakat yang masih enggan menggunakan produk cabai olahan dan lebih memilih cabai segar sebagai konsumsi makanan maupun bumbu masak berakibat pada tingginya harga cabai bila pasokan cabai segar merosot, baik karena curah hujan tinggi, luas tanam berkurang, maupun hambatan hama dan penyakit. Melonjaknya harga cabai karena tingginya permintaan namun stok kurang karena faktor alam (gagal panen) dan distribusi dapat memicu terjadinya inflasi.
Beberapa saat lalu Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman menyebutkan bahwa tingginya harga cabai dapat diatasi apabila masing-masing keluarga di Indonesia dapat memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam tanaman cabai, dengan Gerakan Tanam Cabai (Gertam Cabai).
Balitbangtan sebagai lembaga penelitian dan pengembangan pertanian menerapkan bioteknologi untuk menghasilkan varietas unggul maupun bioprospeksi. Saat ini VUB cabai Carvi hasil bioteknologi in vitro yang memiliki produktivitas tinggi dan ketahanan terhadap virus belang (Chilli Veinal Mottle Virus/ChiVMV), tinggal menunggu SK pendaftaran untuk peredaran.
Balitbangtan juga telah mulai bergerak di bioprospeksi dengan mengembangkan fitohormon “Horvic” berbasis senyawa aktif asal Plant Growt Promoting Bacteria (PGPB). Horvic adalah fitohormon atau zat pengatur tumbuh tanaman hortikultura yang diekstrak dari mikroba endofit terpilih yang diisolasi dari jaringan tanaman. Jenis fitohormon yang dikenal antara lain golongan auksin, giberelin, steroid, dan sitokinin. Untuk Horvic, senyawanya adalah auksin dan giberelin. Menurut peneliti dari Balai Besar Biogen, Dr Dwi Ningsih Susilowati, sejumlah koleksi bakteri dari tanaman pertanian mampu menghasilkan asam indol asetat (AIA) sejenis fitohormon auksin antara 20 sampai 435 ppm.
Horvic mampu memacu percepatan perakaran, fase vegetatif, dan generatif, mampu merangsang pembungaan dan pembuahan secara serempak, meningkatkan kualitas hasil tanaman cabai, diperoleh dari ekstraksi senyawa aktif dari PGPB terseleksi, dan tidak membahayakan (aman) bagi manusia, hewan, dan lingkungan.
Cara aplikasinya mudah, cukup disemprotkan sesuai dosis dan waktu rekomendasi pada daun. Pada saat aplikasi tidak boleh dicampur dengan bahan kimia dan pada saat tidak dipergunakan sebaiknya disimpan di tempat yang kering dan sejuk. Efektivitas penggunaan fitohormon eksogen selain ditentukan oleh jenis dan jumlah, juga ditentukan oleh formulasi. Untuk Horvic pemberian pada cabai direkomendasikan aplikasi pertama saat umur tanaman 2 minggu (15 HST), aplikasi kedua pada saat tanaman umur 8 minggu, dan aplikasi ketiga umur tanaman 10 minggu, dengan dosis 3 cc Horvic per 1 liter air (1 L Horvic per ha) dengan cara disemprotkan terutama pada daun tanaman hingga merata.
Fitohormon sebenarnya sudah lama diteliti, namun biasanya bahannya masih impor. Karena itu, karya anak bangsa ini merupakan angin segar dan wujud kemajuan kita dalam penguasaan iptek khususnya bioteknologi.